Minggu, 09 Februari 2014

Harmoni yang Tercerai

Nun dari sana, dari kampung Andalas, burung-burung mengantar kabar.
Menyeruak dari bilah-bilah waktu.
Terdengar cuitan kemarau.

Sumur tak berair. Sungai tinggal kerikil. Jalanan retak. Tanah melempung, pematang sawah merekah.
Berapa bulan sudah mentari memaksa bumi melepas air menguap ke dia yang tinggi. Menguap...
Dedaunan kecoklatan, hampir putus harapan menahan cintanya pada klorofil. Pepohonan meranggas.

Di sini, di pulau ini, anak-anak di pengungsian. Menangis digendong para ibu. Kakek, nenek disekat tenda-tenda donasi. Muda-mudi menjajakan kotak amal di pinggir jalan yg tak dilewati.
Mengungsi.

Air kiriman itu terlalu berlimpah. Banjir lagi, ujar juru siar di kotak-kotak ajaib itu.

Kering dan basah. Kemarau dan hujan. Sejatinya pasangan abadi dari sang Abadi.
Sepasang, tiada terpisahkan.

Tapi kini, pasangannya lari.
Sembunyi berhari-hari. 
Hujan, hujan, hujan lagi.
Banjir lagi.
Kemarau sang cintanya hujan meninggalkannya berhari-hari.
Pergi ke sana, entah kapan kembali.

Inilah waktu ketika harmoni itu tercerai.
Manusia sana, manusia sini dituduh biang keladi.
Sampah menumpuk. Pembangunan kota yg tak terkendali. Bagai pasukan kavaleri yg baru latihan berderap lari. Sulit berhenti.

Oo. Kenapa tak mau periksa diri?


Jakarta, penghujung Januari 2014.
-FerSus-