Rabu, 29 Januari 2014

Buta yang Terburuk adalah Buta Politik

Saya menuliskan pernyataan dari Bertalt Bracht berikut ini di timeline saya:

Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik.

Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional. Bertalt Bracht (Penyair Jerman)

Mari melek politik!

---

Ada yang bertanya:
wis serem... kalo bedanya politik sama strategi apa pak??? setau saya sih kalau Rasululloh saw. dan Pejuang di belahan bumi Asia istilah yang digunakan adalah Strategi, mulai dari strategi perang, strategi ekonomi sampei sosial, dan strategi itu menggunakan adab, etika dan panduan... kalau politik sy tidak tau apakah ada etikanya atau sekedar untuk mencapai tujuan bagaimanapun caranya... 
---

Jawaban saya:
AFAIK, strategi itu kepanjangan dari politik. Strategi menjangkau sesuatu yang lebih spesifik dari politik. Betul itu, contohnya ada strategi perang, strategi ekonomi, dll.
Politik secara definisi banyak siy artinya, macam-macam dari banyak ilmuwan. Yg saya suka dan tampak mengena adalah:

 
(1)Sbg usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama
(2)Sbg suatu hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
(3) Merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
(4) politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.


Jadi, politiknya sendiri tidak masalah (saya yakin ini). Yg masalah itu adalah manusia pelakunya. The man behind the gun-nya .... Mudah2an masyarakat kita semakin tercerahkan pengetahuan politiknya, agar semua proses politik yg terjadi ditengah-tengah masy itu juga cerah, dan pada gilirannya terlahir pula pemimpin politik yg mencerahkan, jujur dan amanah. #Semoga
--

Ada yang respon lagi:
Jika istilah Politik itu muncul saat Kekaisaran Roma membentuk Senat, maka saya lebih suka ketika Conan the barbarian memukulkan Kapaknya diatas meja Senat, dan ketika william wallace memaki para bangsawan skotland yang rame berdebat, meskipun karena politik william wallace jadi korban... dan saya lebih memilih jaman Rasululloh sampe Khalifah Umar bin Khatab dibanding setelahnya yang sudah melakukan sistem pemilihan... kami Rindukan Amirul Mukminin yang takut pada Tuhan bukan pada para pendukungnya apalagi pada data2 survei2 apalah... hehehe...

---
Berikut ini jawaban saya:
Setuju, dan benar sekali. Kita (ummat Islam) punya romantisme sejarah terhadap kehidupan sosial di masa Rasulullah SAW. Pertanyaannya adalah, bagaimana mentransformasi nilai-nilai yang kita rindukan itu dalam konteks kekinian? ke dalam konteks bernegara kita saat ini? 
 
Mau tidak mau, suka tidak suka, kebijakan, keputusan atau perangkat apapun yang ditujukan sebagai aturan bersosial, dibuat oleh lembaga-lembaga politik. Dalam sudut pandang inilah, himbauan untuk melek politik menjadi sebuah keniscayaan. 

 
Masa bodoh, apatis, cuek, ataupun anti politik sungguh bukanlah pilihan yg tepat untuk diambil saat ini, jika kepentingan masyarakat tidak ingin terus tergadaikan di tangan-tangan 'yang kotor'... #Merdeka
 


*Picture is powered by google