Monday, September 9, 2013

Harga sebuah Jaket bekas dan Sepiring Nasi

Mengenderai sepeda motor kesayangan, ku tembus juga udara kota kembang yang disertai bulir-bulir gerimis di malam itu. Sesekali bunyi petir terdengar. Meskipun tidak keras, tapi tetap saja berhasil menyerupai suara drum kosong yang digelendingkan di aspal. Cuacanya dingin. Menusuk.

Beruntung, dari kantor ke rumah hanya butuh menunggu jarum panjang pada jam di pergelanganku berputar melintasi 3 angka saja. Meski cepat juga dekat, jarak tempuh lima belas menit dengan cuaca menggigilkan begitu cukup membuat perut unjuk rasa. Ya, cukup lapar juga. Tapi aku paksakan untuk tidak makan di luar di hampir tengah malam itu. Pikirku, entar di rumah aja makannya. Isteriku pasti sudah menyiapkan.

Sampai di rumah. Sang tangan waktu menunjukkan angka satu bersanding, lewat 20 menit.


'Assalamu'alaikum', aku memberi salam ke rumah sembari menggedor pintu pagar besi yang bagian engselnya sudah hampir lepas itu. Lebih tiga kali aku gedor pintu pagar, baru isteri ku membukakan pintu rumah. Ternyata isteriku ketiduran, setelah menidurkan anak pertama kami tadi.

Biasanya, hanya mendengar deru khas mesin motorku, dia sudah mengintip keluar dan membukan pintu. 'Maaf bi, umi ketiduran. Sudah lama menunggu bi?, tanya isteriku setengah meminta maaf'. 'Baru ko mi, gak apa-apa,' jawabku tersenyum.

Sepeda motor pabrikan Jepang yang sudah tiga tahunan menemaniku mencari nafkah itu ku parkirkan di sudut singgahnya. Setelah sedikit menyeka bagiannya yang basah dengan kanebo, motor ku kunci ganda agar lebih aman. Khawatir saja, ada orang iseng yang lagi dikendalikan nafsu untuk mengambil yang bukan haknya. So, biar berada di dalam pagar sendiri, kunci ganda itu sangat membantu. Setidaknya pesan itu yang sering aku baca, dan ditempel di sekitar lingkungan rumah kami.

Raincoat aku lepas. Tas punggung dibawakan isteri ku kedalam rumah. Sebelum masuk, ku cuci kaki di sudut depan rumah yang bersebelahan persis dengan rumah tetangga. Bukan kepalang kaget aku waktu itu ketika melihat sesosok manusia yang tampak sangat ringkih duduk bergelung bak udang di teras depan rumah tetangga itu. Maklum, kami tinggal di sebuah gang sempit di kota ini. Jadi jarak rumah ku dengan tetangga memang tidak ada. Beradu dinding kiri, kanan dan belakang. Ada tetangga yang berisik atau anaknya menangis, di rumah kami pasti terdengar.

Antara rasa iba kepada sosok manusia yang sedang kedinginan itu, dicampur dengan rasa takut dan was-was kalau-kalau itu hanyalah modus dari orang jahat untuk menjalankan aksinya, ku beranikan diri untuk mendekat kepadanya. Langkah mendekat yang disertai waspada tingkat tinggi. La hawla saja. Agar tampak lebih terang, ku minta isteri keluar sambil membawakan lampu portable buatan China bertenaga baterai kering yang baru ku beli dari pedagang asongan di perempatan dekat kantor ku.

'Punten, punten,' sapa ku ke sosok yang sedang terdiam di sudut itu dengan sapaan bahasa Sunda. 'Bade kamana?'. Tak ada jawaban. 'Punten', ku menyapa sekali lagi. 'Masih tak ada jawaban'. Lampu kudekatkan kewajahnya. Ternyata seorang wanita berusia tiga puluhan, mungkin. Bisa jadi lebih muda, hanya karena lusuh dan tidah bersih tampak lebih tua. Maaf.

'Lagi ngapain mba?', tanyaku lagi. Kali ini pake bahasa Indonesia. 'Dingin, dingin,' jawabnya sambil gigi bergeretak. Wah, kasihan sekali, pikir ku. Melihat adegan ini, alhamdulillah feeling isteriku sangat responsif untuk membantu. Tanpa disuruh, dengan sekejap ia masuk rumah dan keluar membawakan secangkir teh manis hangat.

'Diminum mba, diminum tehnya', ujarku sambil menyodorkan cangkirnya. Dia mengangkat kepalanya, melihat ke arah kami, tatapannya dingin. Sulit menangkap maknanya. Dia menerima gelasnya, dan menyeruputnya seketika. Dengan beberapa tegukan saja, teh manisnya habis. 'Lagi?' tanyaku. Dia menggeleng. Suara bergumam terdengar, menandakan ia masih kedinginan. 'Tunggu sebentar ya mba, aku mengajak isteri ke dalam rumah. Kami diskusi sebentar.

Ku minta isteri menyiapkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Tak lama, isteri ku sedang menyiapkan makanan, aku membuka lemari pakaian. Pada rak terbawah, ku temukan yang ku cari. Jaket motor yang biasa ku pakai dulu. Di belakangnya ada tulisan ADNOH, yang kalau dibalik adalah merek perusahaan pembuat motor.

Kami keluar lagi. Ku berikan jaket warna merah itu padanya. Langsung ia pakai. Meski tidak terlalu tebal, ku harap itu cukup membantu menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Tak banyak bicara. Isteri ku pun memberikan makanannya. 'Dimakan mba,' kata isteri ku. Tidak perlu merasa malu, ia langsung memakan dengan lahapnya. Habis, tak bersisa.

Setelah terlihat agak baikan dibanding sebelum makan dan pake jaket tadi, kutanya lagi, 'Mau kemana mba?'. Tetap tak ada jawaban.

Pikirku, dari pada menanyainya lagi dan tetap tidak dijawab juga, ku persilakan saja dia istirahat dulu di situ. Gerimis sudah berhenti. Jam dinding sudah berdentang dua belas kali. 'Kami masuk dulu ya mba', aku dan isteriku pamit. Ia mengangguk. Lampu portable kumatikan. Selintas ku ingin juga mempersilakannya membersihkan diri dan istirhat di rumah.

Belum sempat pintu rumah kami tutup, terdengar suara motor mendekat ke rumah depan kami. Saya menoleh sedikit ke kanan dari lorong pintu, sekilas ku lihat yang di motor adalah anak ibu depan rumah kami. Ya, emang dia. Ia berhenti, lampu motornya masih menyala, setir motornya agak miring ke kiri sedikit. Arah cahayanya persis menuju posisi si mba yang duduk tadi. Tapi bulu kudukku merinding seketika, ia sudah tak ada. She's gone. Tak sempat aku dan isteri melihat kapan dia pergi. Suara langkah kaki pun tidak terdengar. Lenyap dan sunyi.

'Astaghfirullah,' batinku, sembari berharap ampunan Allah jika-jika ada sesuatu yang salah yang pernah kami lakukan padanya tadi.

 ---
Tiga hari berlalu, sosok si mba itu tetap misterius bagi ku dan isteri. Kami tidak terlalu memikirkannya lagi. Hari ke-empat dari kejadian itu, tiba-tiba saja SK dari perusahaan keluar, aku dipromosikan menjadi seorang Supervisor. Awalnya aku adalah seorang Team Leader yang membawahi langsung 15-20 orang bawahan. Diangkat menjadi supervisor, amanat kepemimpinan bertambah berat, ku bawahi tidak kurang dari 220 orang. Memang sekira lima bulan sebelum kejadian itu, aku sempat mengikuti proses promosi jabatan. Tapi berbulan-bulan tidak ada kejelasan, apakah diterima atau tidak. Subhanallah.

Tentu, naik jabatan, berati naik pula secara materi apa yang didapat. Tunjangan lebih, gaji lebih, prestise lebih. Ku minta petunjuk Allah agar semuanya senantiasa berkah. 

Apakah ini salah satu cara Allah untuk membalas 'secuil' bantuan kami untuk si mba malam itu? Wallahu a'lam. Dalam doa, ku pinta agar senantiasa diajarkan sikap ikhlas. Berbuat baik hanya karena berharap ridha Allah. Semoga aku dan kita semua mampu. InsyaAllah wa amiin.

*Kisah nyata ku (awal 2009) ditambah sedikit ungkapan sastrawi.

@feri_s
221A8441