Rabu, 19 September 2012

Mari Bercerita untuk Anak Kita

Saya punya seorang paman, kami menyebutnya Oom. Adik dari ibu. Semasa kecil saya pernah punya kenangan indah dengan beliau. Waktu itu saya masih TK, bayangan samar-samar kejadian itu masih membekas hingga sekarang.
Oom kami adalah seorang lelaki yang rajin bercerita. Berbeda dengan bapak dan ibu. Saya ingat, hampir setiap hari selalu saja ada deretan cerita yang mengalir dari bibirnya. Entah cerita dongeng, cerita rakyat atau cerita sahabat nabi. Caranya bercerita sederhana, tidak seperti pendongeng yang terkenal. Tapi bagi saya yang masih kanak-kanak, itu adalah sebuah kenangan yang membekas hingga kini.
Jaman kemudian berubah, terpaan teknologi bagai badai padang pasir. Begitu deras dan masuk ke rumah-rumah kita. Anak-anak tak lagi nyaman duduk di pangkuan orang tuanya karena toh ada banyak hal yang bisa membuat mereka duduk tenang di depan kotak bernama televisi. Film kartun, film dari DVD, games dari playstation atau bahkan sinetron yang belum tepat untuk mereka. Semua jadi pengganti untuk sesuatu yang dulu bernama “keintiman”
Orang tuapun sama. Waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga, berharga dalam artian yang berbeda. Berharga karena dinilai dengan uang. Setiap detik adalah uang. Setiap menit adalah rupiah. Orang tua kemudian lebih memilih meluangkan banyak waktu mereka untuk bekerja menggenapkan pundi-pundi rupiah, ketika ada waktu yang tersisa mereka tak akan melewatkannya begitu saja. Istirahat adalah pilihan. ?Toh, anak-anak juga sudah asyik dengan dunia mereka.
Sekitar seminggu yang lalu saya mendapat email dengan judul Surat Dari Takita. Surat ini mugkin hanya surat rekaan, tapi makna yang ada dalam surat ini sungguh dalam. Surat yang menyiratkan keinginan seorang bocah untuk mendengar cerita dari orang tuanya. Tak perlu cerita dongeng, karena intinya memang bukan itu. Cerita apa saja yang dilontarkan orang tuanya adalah sebuah hal yang sangat bermakna untuk sang anak.
Berikut saya salinkan surat dari Takita.
Selamat pagi bunda! Selamat pagi ayah! Selamat pagi kakak semua!
Takita ingin cerita ke ayah, bunda dan kakak semuanya. Ehm sebenarnya sih surat dari Takita sudah diperbaiki oleh kakak-kakak dari Indonesia Bercerita. Jadi bagus hihi. Tapi sama saja kok maksudnya
Takita punya mimpi, kita bisa mendengar ayah bunda bercerita setiap masuk rumah dimana pun di Indonesia. Ada teriakan dan tawa anak-anak. Kita bisa mendengar suara keras ayah yang pura-pura jadi jagoan. Kita bisa mendengar suara lembut bunda yang pura-pura jadi ibu suri
Takita percaya, keluarga yang penuh kasih sayang itu membuat kami bisa belajar dengan senang. Takita percaya kasih sayang itu ada ketika ayah bunda bercerita. Itu tandanya ayah bunda perhatian pada kami. Takita juga suka bercerita. Takita senang kalau ayah bunda mendengarkan.
Mengapa suka bercerita? Takita suka sekali mendengar cerita dari ayah bunda. Takita jadi tahu banyak cerita. Ada yang menakutkan. Ada yang menyenangkan. Ada petualangan seru.
Dari cerita ayah bunda, Takita belajar kata-kata baru. Ketika ayah bunda bercerita, Takita sering bingung maksudnya. Takita tahu sih kadang mereka gemes. Ayah bunda menjelaskan dengan sabar ke Takita.
Dari cerita ayah bunda, Takita jadi tahu banyak kesulitan. Ketika ayah bercerita Kambing Hitam Putih, Takita jadi tahu sedihnya Hita. Iya Hita sedih karena tidak ada yang mau berteman dengannya. Takita tahu bagaimana caranya Hita akhirnya bisa bersahabat baik dengan Pito. Mungkin Takita hanya paham sedikit, tapi Takita belajar dari cerita ayah bunda.
Ayah bunda pernah cerita ke Takita, banyak anak yang tidak pernah mendengar ayah bundanya bercerita. Mungkin mereka sibuk bekerja. Tapi Takita jadi sedih. Takita sedih, bagaimana kalau teman-teman Takita juga seperti itu. Takita tidak mau itu terjadi. Takita ingin teman Takita bisa mendengar ayah bundanya bercerita.?
Ayah bunda, kakak semua, itulah mimpi Takita. Kita semua senang bercerita. Takita ingin sekali mimpi ini jadi kenyataan. Takita percaya ayah bunda menyayangi kami. Takita percaya banyak kakak yang peduli pada kami, anak Indonesia.
Takita mengajak ayah, bunda dan kakak semua. Kita ajak semua orang. Iya semuanya. Kita ajak agar mereka juga senang bercerita, seperti kita. Takita tidak bisa sendiri. Takita takut kalau sendiri. Ayah bunda dan kakak semua mau kan menemani Takita?! Terima kasih ayah. Terima kasih bunda. Terima kasih kakak semua
Ayah bunda dan kakak semua, begitu dulu ya cerita Takita. Takita sudah cerewet banget. Takita tahu harus cerewet. Biar mimpi Takita bisa jadi kenyataan. Maafkan kecerewetan Takita
Salam Ceria
Takita
Surat yang menyentuh bukan? Bayangkan bila seorang anak kecil dengan mata yang jernih tanpa dosa membaca surat seperti itu di depan anda. Saya yakin manusia manapun akan tersentuh. Dan saya yakin mimpi Takita adalah mimpi yang bisa jadi kenyataan.
Mari mendukung Takita untuk mewujudkan mimpinya. Mari mengajak para orang tua untuk semangat bercerita kepada anak-anak mereka, membangun keakraban yang selama ini mungkin tergantikan oleh televisi dan kesibukan.
Kita sama-sama punya mimpi untuk Indonesia yang lebih baik bukan? Mari mulai dari yang paling mudah. Bercerita untuk anak kita.
Keterangan:

Ingin berjumpa Takita? Like di http://Facebook.com/BonekaTakita

Ingin mendengar suara Takita? Klik di http://IndonesiaBercerita.org