Sunday, February 12, 2012

Say What to CLBK?

Sejak maraknya situs jejaring sosial seperti Facebook, Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK) nampaknya ikut menjadi tren. Kalau yang melakoni CLBK sama-sama masih lajang sih tidak ada masalah, tapi yang menjadi masalah yang melakoni adalah mereka yang sudah menikah! Facebook menggoyahkan dan mengahancurkan pernikahan sungguh bukan rumor, tapi nyata, nyata, dan nyata.

Ada seorang istri yang meninggalkan suaminya, kemudian menikah lagi dengan teman SD yang ditemuinya kembali lewat Facebook. Ada seorang suami yang kerap kali mengirim pesan dan rayuan mesra kepada wanita lain yang masih dicintainya, lagi-lagi lewat Facebook. Ada wanita, sudah menikah, rajin sekali menulis di Wall Facebook seorang lelaki yang bukan suaminya untuk memberikan sejuta perhatiannya. Nauzubillahi minzaliik…

Diawali dengan perjumpaan kembali di Facebook, meninggalkan pesan di inbox, chatting, reuni, terus berlanjut dan berlanjut. Di mata si laki-laki si dia terlihat semakin cantik, menarik, semakin memesona. Di mata si perempuan si dia terlihat sukses dalam karir, mapan, dan semakin dewasa. Cinta lamapun bersemi kembali.

Saling menyapa mesra, memberikan perhatian istimewa, berbagi cerita, curhat, bernostalgia. Apalagi jika perpisahan yang dulu terjadi bukan karena hal yang sangat prinsip, misalnya hanya karena pisah atau pindah sekolah. Ditambah lagi mereka menemukan banyak kekurangan pada pasangan sekarang (baca: suami/istri). CLBK menjadi kian tak terelakkan. Hanya si dia yang kini bertahta di pikiran kita.

Ketika cinta lama bersemi kembali maka semua terasa indah, hidup menjadi lebih bergariah, ada sensasi yang luar biasa. Benar sekali, karena setan menjadikan segalanya terasa indah buat mereka, ada khannas yang bersembunyi dan membisikkan ke dada mereka, dan khannas yang terus melancarkan tipu dayanya! Sehingga diterjangnya norma sosial, diterjangnya norma agama, semata-mata demi hawa nafsu.

Tak ada rasa takut lagi kepada Allah yang Maha Mengawasi setiap perbuatan kita. Tak dipikirkannya lagi perasaan sang suami atau istri yang bila tahu perbuatan mereka,akan terkoyak dan terluka hatinya. Padahal saat asyik bersama si dia, mungkin sang suami sedang bekerja keras, bekerjauntuk mewujudkan harapan dan impian istri tercintanya. Atau istrinya sedang kelelahan mengurus anak-anaknya di rumah, menyuapi, memandikan, menggendong anak-anak…

Sungguh, Allah membenci orang yang berbuat khianat. Allah Swt berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berkhianat.” (Q.S Al-Anfal [8]: 58)

Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang paling di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya terhadap keluargaku. Tiada yang memuliakan seorang istri, kecuali orang yang mulia. Dan, tiada seorang yang menghinakan seorang istri, kecuali orang yang hina.”

STOP, Berhenti, Jangan teruskan CLBK! Sebelum semua terlambat. Pikirkan lagi dengan hati yang jernih. Cinta seperti itu tidak akan berakhir bahagia, sebaliknya akan berakhir penyesalan dan duka. Buang jauh-jauh cinta lama kita. Jangan biarkan cinta lama bersemayam di hati, jangan biarkan cinta itu bertunas, lalu tumbuh merekah!

Lihat di samping kita… Pasangan yang bertahun-tahun setia di samping kita, tak pernah sedetikpun meninggalkan kita walau bagaimanapun sulitnya hari-hari kita, dia yang berjuang bersama kita, dia yang telah menerima segala kekurangan kita, diaibu dari anak-anak kita.

Tatap anak-anak kita…amanah Allah kepada kita. Hati mereka harus dijaga dengan sekuat tenaga, jangan sampai terkoyak maupun terluka. Tegakah kita meruntuhkan kebahagiaan mereka demi nafsu kita? Kebahagiaan yang didapat bila ayah bunda lengkap ada bersama mereka. Sungguh, tak akan ada yang melebihi kasih sayang ayah dan ibu kandung mereka , orang tua terbaik untuk mereka. Ayah Bunda… Kebahagiaan anak-anak ada di tangan kita.

Wallohu ‘alam bishshowaab. Bangkok, 25 Maret 2011.

Daftar Pustaka :
Nadia, Asma. Sakinah Bersamamu. Depok: AsmaNadia Publishing House. 2010
Diambil dari: http://intankurnia.wordpress.com