Thursday, December 15, 2011

The Power of F.E.R.I

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi dengan rekan-rekan kerja mengenai value ataupun spirit dalam mengelola bawahan. Bahasa kerennya ‘Subordinate Management’ (Baca: Pengelolaan Bawahan/ Team). Ada banyak gagasan dan semangat mengenai value tersebut yang saya terima dari rekan-rekan kerja tadi. Semuanya hebat. Banyak yang mengutip para pakar manajemen kepemimpinan (dalam dan luar negeri). Ada juga yang mencoba mencari-cipta sendiri.

Kemudian, tiba  saatnya giliran saya yang menyampaikan value yang saya gunakan dalam mengelola team/ bawahan. Mungkin pada awalnya, begitu mendengar penjelasan saya, rekan-rekan tersebut mengira saya sok narsis. Kenapa? Karena saya mengajukan gagasan value berikut ini: The Power of F.E.R.I. Kekuatan FERI? Dan kebetulan F.E.R.I adalah sama dengan nama depan saya. Tentu tidak mengherankan jika mereka berfikir saya narsis. Namun saya punya penjelasan lain.

The Power of F.E.R.I. (baca: ef, e, er, i) bukanlah merujuk pada personal saya pribadi. Ia bermakna: Daya dari makna huruf F.E.R.I. Lalu, apa saja makna keempat huruf tersebut?

F: Freedom.
Kebebasan. Itu spirit yang sangat humanis yang wajib dimiliki oleh semua karyawan, karena itu hak mereka. Sehingga jelas itu akan saya utamakan dalam team. Tapi semua ada aturannya. Kebebasan yang bertanggung jawab adalah maksud saya dengan value ini. Terutama dalam menyusun rencana aksi dalam menghadapi tantangan berorganisasi, selain saya bisa memberikan instruksi langsung, juga sering saya lakukan pemberian ‘kebebasan’ kepada karyawan dalam menyampaikan inisiatif. Tidak jarang ide-ide segar dari karyawan sangat membantu organisasi untuk tetap runs well dan mencapai performa puncak.

E: Enthusiastic.
Antusias. Value ini diperlukan untuk menjadi pemantik api semangat dalam bekerja. Banyak ide segar yang ingin dikeluarkan oleh seorang karyawan pada saat meeting menjadi tidak ditanggapi oleh forum karena yang menyampaikannya tidak memperlihatkan antusiasme sedikit pun. Demikian sebaliknya, kadang ide yang biasa-biasa saja, namun karena dikemas dengan antusias oleh sang penggagas, ia menjadi menarik attensi forum dan menjadi boom.

Antusiasme ini (harus) saya lakukan setiap saat dalam berinteraksi di keorganisasian. Demikian pun pada bawahan/ team, mereka harus juga memperlihatkan antusiasme yang sama atau lebih. Karena antusiasme menunjukkan berapa serius kita dalam bekerja.

R: Rely on each other.
Saling mengandalkan, inter-dependent. Value ini harus dipahami secara teliti. Ia bermakna saling mengandalkan bukan dalam perspektif negative. Dalam kacamata negative, value ini terlihat mematikan semangat mandiri dan kinerja personal. Bukan. Samasekali bukan itu maksudnya. Value yang saya terapkan ini adalah spirit dalam team-work. Bahwa dalam organisasi, kita bukan pribadi yang terpisah dari yang lain. Semua personal yang terlibat saling terkait, saling terandalkan dengan fungsi masing-masing, saling tergantung sama lain. Karena tidak ada Mac Gyver dalam team yang bisa bekerja sendiri tanpa bantuan personal atau divisi lain.

Makna dasar yang coba saya sampaikan adalah semangat berkerja sama dalam menyelesaikan masalah atau tantangan yang dihadapi. Dengan kerjasama team, pekerjaan berat menjadi ringan, yang rumit menjadi sederhana. Karena ‘TEAM’ adalah Together Everyone Achieves More.

I: Internalization.
Internalisasi atau penghayatan nilai-nilai tertentu adalah sangat krusial. Karena kami bekerja di dunia service, maka semangat utama yang harus dan selalu kami junjung tinggi adalah pemenuhan kepuasan pelanggan (Customers Satisfaction). Penghayatan akan nila-nilai kepuasan pelanggan adalah syarat mutlak untuk menjadi karyawan yang berdedikasi di perusahaan. Dalam prakteknya, apapun yang dilakukan dalam organisasi atau perusahaan tersebut harus selalu refers to fulfill the customers’ needs; satisfaction.

Demikianlah empat value yang saya yakini baik dan bisa diterapkan dalam mengelola team/ bawahan agar team senantiasa efektif. Karena team yang efektif akan berdampak pada efisiensi dalam pengelolaan dan membuat organisasi menjadi solid dalam menghadapi tantangan apapun. Dan pada ujungnya mengantarkan organisasi pada goal yang ditetapkan.
*** 

Jika pembaca merasa artikel ini bermanfaat, sila saja digunakan atau disebarluaskan asal tetap menuliskan source-nya dan tidak mengklaim sebagai tulisan sendiri.