Selasa, 29 Desember 2009

7 Habits of Highly Effective People

Tanggal 27 Desember 2009, saya dan beberapa rekan dari CC Infomedia Bandung mendapatkan kesempatan besar untuk berpartisipasi dalam sharing session dengan ibu Riri Amalas Yulita -inisial R.A.Y- (Trainer dari ‘G Brain’ yang juga General Manager di PT.Telkomsel). Tema besar yang disampaikan oleh bu Riri adalah to be a quaLity people.



Untuk menjadi seorang pribadi yang berkualitas yang memiliki ‘value’ perlu meniru langkah dan kebiasaan dari orang-orang yang efektif. Dalam konteks inilah bu Riri menjelaskan 7 Habits-nya Stephen R. Covey. Buku motivasi bestseller tersebut berhasil dirangkum secara ringan dan undertandable easily oleh trainer. Sehingga saya yang pernah membaca buku tersebut sekitar 5 tahun yang lalu pun merasa mendapatkan pemahaman yang lebih segar dan sangat aplikatif di lingkungan kerja. Mendapatkan penjelasan dari trainer dengan konteks lingkungan kerja saya (pelayanan pelanggan), saya merasa belum membaca buku tersebut sepenuhnya. Dengan pengalaman belasan tahun jadi manager di dunia customer service, bu Riri sharing kepada kami bagaimana mengelola team dengan konsep win-win yang efektif, disertai habit-habit efektif yang lainnya.



Sesungguhnya ada banyak pengalaman trainer yang kami terima pada kesempatan tersebut. Berhubung apa yang disampaikan oleh bu Riri adalah adaptasi buku "The Seven Habits of Highly Effective People" dicampur dengan pengalaman beliau, maka pada kesempatan ini saya sarikan isi buku tersebut secara singkat:



Dipublikasikan pada tahun 1989. Buku ini termasuk best seller dan telah diterjemahkan ke 38 bahasa.
Buku ini berisi prinsip, yang bila diterapkan sebagai kebiasaan hidup, akan menuntun seseorang mencapai efektivitas sejati. Setiap kebiasaan dibahas dalam bab tersendiri dengan inti-inti sebagai berikut :


1 . Be Proactive (Bersikap Proaktif).
Dalam menghadapi suatu masalah, kita bisa memilih untuk bersikap a) reaktif atau b) proaktif. Bila kita cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan yang sulit, maka kita bersikap reaktif. Sementara proaktif adalah sikap bertanggung jawab atas setiap aspek dalam kehidupan kita, yang selanjutnya membuat kita mengambil inisiatif dan tindakan. Intinya, dengan bersikap proaktif, kita tidak membiarkan diri kita terhanyut oleh keadaan, tetapi justru kita yang berusaha mengendalikan keadaan. Dalam konsep "stimulus dan respons", keadaan adalah stimulus yang tidak dapat dikendalikan, tetapi manusia mempunyai daya untuk memilih respons apa yang akan dia ambil.


2. Begin with the End In Mind (Memulai dengan Tujuan di Pikiran).
Banyak orang memiliki cita-cita, tetapi sedikit yang mampu membayangkan (memvisualisasikan) dan menuangkan visi hidupnya itu dalam suatu pernyataan. Dengan membuat "Pernyataan Misi Pribadi", kita dibantu untuk berkonsentrasi dan mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan dihadapi sebelum kita bertindak.


3. Put First Things First (Dahulukan Yang Utama).
Kita harus mempunyai skala prioritas untuk tujuan-tujuan jangka pendek, dengan tidak melupakan tugas-tugas yang walaupun terlihat tidak mendesak tetapi ternyata penting. Dengan sempitnya waktu, seorang pemimpin harus mampu mendelegasikan sebagian tugasnya. Pendelegasian tersebut akan efektif bila sejak awal ada kesepakatan hasil yang ingin dituju, jadi bukan semata rincian rencana kerja dari atas.
Kebiasaan 1- 3 merupakan kebiasaan yang berhubungan dengan diri sendiri untuk membangun karakter pribadi.


4. Think Win/Win (Berpikir Menang-Menang)
Bila kita terbiasa memikirkan solusi yang saling menguntungkan (win-win solution) bagi kedua belah pihak, maka kita dapat meningkatkan hubungan kerjasama yang lebih efektif dalam mencapai tujuan.


5. Seek First to Understand, Then to be Understood (Mengerti Dulu, Baru Dimengerti).
Bila kita memberi suatu nasehat tanpa berempati atau tanpa memahami situasi orang tersebut, maka kemungkinan besar nasehat tersebut akan ditolak atau tidak berguna. Maka biasakan untuk "paham dulu baru bicara" agar komunikasi berjalan dengan efektif.


6. Synergize (Sinergi)
Berusahalah untuk mencapai sinergi positif bila bekerja dalam team. Intisarinya adalah perbedaan nilai-nilai yang ada harus a) dihormati, b) dibangun kekuatannya, dan c) dikompensasi kelemahannya. Galilah potensi dan kontribusi setiap anggota team. Jika sinergi dapat dicapai, maka hasil satu team lebih besar daripada hasil anggota bila bekerja sendiri-sendiri. 

Kebiasaan 4,5,6 berhubungan dengan publik, yang diwujudkan dengan menguasai komunikasi dan kerjasama yang efektif dengan orang lain.

7. Sharpen the saw (Pertajam Gergaji)
Kebiasaan ini berfokus pada pembaharuan diri secara mental, fisik, emosional/sosial dan spiritual yang seimbang. Untuk dapat terus produktif, seseorang juga harus menyegarkan dirinya dengan memiliki aktivitas-aktivitas rekreasi.