Sabtu, 11 April 2009

Dibalik keberhasilan Partai Demokrat


Hasil PEMILU versi quick count dari beberapa lembaga survey sudah dipublikasikan melalui media nasional. Hanya beberapa jam dari waktu pemilihan, lembaga-lembaga survey telah mulai menerima data dari para agentnya yang tersebar acak tersebut, dan semua lembaga tersebut telah mendudukkan partai Demokrat pada posisi pemuncak. Jika hasil quick count ini selaras dengan hasil perhitungan akhir yang resmi dari Komisi Pemilihan Umum, maka sudah dapat dipastikan partai Demokrat lah yang paling unggul dalam PEMILU calon anggota legislatif tahun 2009 ini.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari fenomena partai Demokrat ini. Untuk menjelaskan fenomena tersebut bisa didekati dari beberapa faktor sosial. Pertama adalah faktor kepemimpinan (Leadership). Meskipun Demokrat adalah sebuah partai, yang notabene didalamnya ada jutaan kader dan ribuan pemimpin dalam semua levelnya, namun masyarakat masih tidak bisa melepaskan pandangannya bahwa partai Demokrat adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan SBY adalah partai Demokrat. Hubungannya tidak dapat dipisahkan.

Dari dimensi kepemimpinan ini, kita bisa menyebutkan bahwa bangsa Indonesia, setidaknya para partisan partai Demokrat, masih menyimpan romantisme kepemimpinan masa lalu yang umumnya lebih bisa terwakili oleh penampakan kepribadian pemimpin tersebut. Maksud saya adalah masyarakat lebih mendahulukan dasar kepemilihannya pada performa luar (phisically), ketimbang gagasan-gagasan yang dibawa oleh sang tokoh. Pandangan ini sejalan dengan hasil survey beberapa lembaga mengenai tingkat popularitas tokoh-tokoh nasional. Dari hasil survey itu, disukai atau tidak oleh para tokoh yang dijadikan objek survey, menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih lebih mempercayai bangsa ini akan terus dipimpin oleh SBY daripada tokoh-tokoh lainnya. Meskipun dalam pandangan beberapa pengamat menyatakan bahwa beberapa tokoh calon presiden alternatif memiliki beberapa gagasan yang kebih segar. Sebut saja diantara tokoh-tokoh ini ada politisi muda dari Golkar Yudhi Krisnandi, intelektual dan mantan menteri Rizal Ramli, dan lain-lain.

Faktor berikutnya adalah faktor komunikasi politik (Political Communication). Beberapa jam setelah masa pemilihan calon legislatif 9 April 2009, Stasiun TVOne mendatangkan beberapa pengamat dan pakar komunikasi politik seperti Yudhi Latif, Aria Bima dan Effendi Gazali. Dari hasil pengamatan saya, mereka bertiga ini setuju kalau dikatakan bahwa komunikasi politik partai Demokrat dengan icon-nya SBY lah yang paling berhasil (dalam konteks pemasaran). Meskipun ada beberapa partai pendatang baru yang berhasil masuk dalam 10 besar partai politik di Indonesia (menurut perhitungan sementara). Faktor komunikasi politik yang menguntungkan bagi partai Demokrat ini sesungguhnya bukan semata-mata hasil kerja keras partai Demokrat sendiri. Tapi ada juga akibat dari blunder politik yang dilakukan oleh partai pesaingnya, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Sebagaimana diketahui di akhir-akhir masa kampanye PDI-P mengeluarkan iklan TV versi pemantauan pembagian BLT langsung oleh kader PDI-P. Ternyata iklan ini diyakini telah ikut membuat pamor partai Demokrat (baca: kebijakan SBY) menjadi semakin populer. Tidak hanya dianggap populer, namun juga PDI-P melalui iklannya itu telah meyakinkan masyarakat kecil bahwa program BLT yang merupakan salah satu program pro-rakyatnya SBY itu memang perlu dilakukan pemerintah. Disadarai atau tidak, PDI-P telah mendukung program BLT itu. Padahal dalam kesempatan-kesempatan sebelumnya PDI-P dengan lantang sering mengatakan bahwa BLT tidak akan banyak membantu masyarakat kecil, namun justru hanya membuat rakyat miskin menjadi tidak produktif.

Faktor berikutnya adalah pendekatan yang berbeda (different approach). SBY selama 5 tahun masa kepemimpinannya telah melakukan pendekatan-pendekatan berbeda dari pemerintahan sebelumnya. Pendekatan ini terlihat dari beberapa program pro-rakyat versi SBY. Diantara program itu adalah KUR (kredit usaha rakyat), UMKM, PNPM Mandiri (Program Nasional Pengembangan Masyarakat Mandiri), dan yang paling fenomenal adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dikatakan fenomenal karena program ini menyentuh masyarakat dalam skala yang sangat luas dan banyak diliput oleh media. Terlepas dari pro kontra yang ada mengenai program-program pemerintahan SBY, buktinya telah dapat dilihat dari hasil pemilu 9 April kemarin.

Faktor yang keempat adalah faktor waktu (timing). Tampaknya tahun 2009 ini, waktu lebih berpihak pada SBY dengan partai Demokrat-nya. Dari kacamata persaingan, SBY tidak memiliki pesaing alternatif yang benar-benar baru dan beda. Masyarakat melihat tokok-tokoh lain masih memiliki hubungan yang sangat kental dengan perpolitikan masa lalu, misalnya Wiranto, Sutiyoso, Prabowo Subianto dan Sri Sultan Hamengkubuwono. Sementara calon-calon alternatif seperti Yudhi Krisnandi dan Rizal Ramli, yang menurut klaimnya akan mengusung tema perubahan tidak memiliki dukungan partai politik besar yang memadai.

Dan, akhirnya sebagai bangsa yang berkeyakinan pada kekuasaan Tuhan yang Mahakuasa, Allah SWT, kita tidak bisa melepaskan diri dari faktor campur tangan-Nya....

Demikian ulasan singkat mengenai fenomena keberhasilan partai Demokrat pada PEMILU legislatif 2009. Ini semata-mata pandangan pribadi dan tidak bermaksud menggiring pada pembaca pada satu tokoh. Akhirnya, semua pilihan kita serahkan kepada bangsa Indonesia untuk menentukannya sendiri dalam Pemilihan Presiden beberapa bulan ke depan. Wallahu a'lam